Ari Dwi Aryani

Wahyudi

November 26, 2008 · 1 Comment

ringKata orang, jodoh seperti orang sakit perut karena kebanyakan makan cabe. Melilit lilit, lambung serasa di koyak, dan mendesak pengen cepet keluar. Kalo sudah ketemu jodoh, mungkin itulah yang terjadi. Hari ini ketemu, besok dilamar, sebulan kemudian menikah. Saya juga begitu. Walau tidak dalam waktu sebulan kami menikah. Teman saya di masjid punya teman, anak Unpad yang sedang melanjutkan kuliah di kampus kami. Katanya, si anak Unpad ini minta carikan istri anak kedokteran yang sudah hampir lulus. Plus persyaratan utamanya seperti berjilbab, wanita tulen de es be.

Karena teman saya cuma punya 3 orang teman baik anak kedokteran (dan salah satunya adalah saya), dan di antara temannya yang tiga itu, hanya saya yang hampir lulus. Jadilah saya yang disodorkan ke temannya yang ingin mencari istri itu. Waktu di kenalkan, reaksi saya biasa saja. Lagian saya dah ngomong ke Mak Comblang (MC) gak ada garansi untuk langsung deal. Yang penting kenal dulu lah, pikir-pikir nambah teman. Pertemuan pertama kali di tempat makan, dia datang bersama teman-temannya satu kompi dan saya hanya berdua dengan MC. Apakah ada getar-getar, seperti cerita di novel, gak juga. Semuanya biasa saja. Tanggapan saya ketika melihat penampilannya, yah lumayanlah. Dua hari setelah pertemuan pertama, dia menawarkan untuk bertemu lagi dengan syarat, hanya berdua. Lagi-lagi di tempat makan. Tentu saja saya menerima dengan suka cita, alasannya sederhana saja. Saya anak kos dan sangat bahagia kalo ditraktir ditempat makan apalagi yang mahal. Maklum penghematan sekaligus perbaikan gizi bagi anak kos.

Mulanya obrolan biasa-biasa seputar kegiatan kuliah, kegiatan di masjid dan tentang kampus. Pertanyaan mulai bergeser ke arah pernikahan, kapan menikah, apa kriteria memilih pasangan dan sebagainya. Saat itu perasaan saya mulai tak menentu. Makanan yang di depan mata sudah tidak lagi menggiurkan. Pertanyaan yang berputar di otak saya adalah, “bagaimana caranya dia akan melamar saya? dan apakah malam ini adalah saatnya?”. Setelah pembicaraan basa-basi dia mulai bicara, serius, katanya “Saya mau menikah, saya gak mau pacaran. Bagaimana kalo kita menikah? Kita kan punya visi yang sama dalam memandang hidup?” Waktu itu, saya hanya berani melihat dahinya dan hati saya berteriak, saya dilamar!!! Dengan kalimat yang sederhana itulah dia mengajak saya menikah. Saya terdiam dan pura-pura menikmati jus sirsak yang saya pesan. Dan otak saya memikirkan kalimat apa yang akan saya lontarkan untukmenjawab ajakannya.

Masalah pernikahan ini sudah lama saya pikirkan. Saya punya cita-cita menikah begitu tamat kuliah. Sudah dari lama juga saya memikirkan kriteria suami yang saya inginkan. Dan saya pun menetapkan 3 kriteria 1. ia haruslah muslim yang taat, bertanggung jawab, jujur (layaknya seorang muslim) 2. pernah duduk di bangku kuliah (biar nyambung kalo ngomong, gak harus S1 dan gak perlu tamat) 3. mau bekerja untuk mencari nafkah (jenis pekerjaan tidak ditetapkan, karena rezeki sudah di atur oleh Allah bukan?). Mengingat 3 kriteria itu, saya tahu dia memiliki semuanya. Jadi gak ada salahnya untuk menolak. Jawaban saya waktu itu, “Saya terima, karena sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan”. Jadilah kami berjanji untuk menikah, walaupun saya tidak begitu kenal dengannya. Karena saya percaya dengan MC yang mengenalkan kami. Dan sedikit interogasi dengan temannya yang lain yang kebetulan teman saya juga. Mereka bilang dia sesuai dengan 3 kriteria yang saya tetapkan.

Konyol? Bagi sebagian orang mungkin iya. Tapi saya percaya dia karena saya bertemu di Masjid, di rumah Allah. Dan saya punya jaminan teman-teman saya yang juga kenal baik dia. Waktu yang singkat? ya cuma dua hari setelah bertemu saya mengiyakan lamarannya. Karena saya sudah bertanya pada Allah sang pemilik hidup dan jawabannya iya. Cinta? sebagian yang lain pasti mempertanyakan apakah saya tidak menjadikan cinta sebagai pertimbangan dalam memilih suami. Yaa, sebagai cewek melankolis dan hobi membaca novel saya sangat tergila-gila dengan cerita roman. Tapi entah kenapa saat itu ada dorongan dalam diri saya yang meyakinkan, bahwa cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring dengan waktu. Dan saat itu juga saya mengerti betul makna, Rezeki, Jodoh dan Maut berada di tangan Allah.

Categories: Family

1 response so far ↓

  • octo // March 2, 2009 at 9:21 am

    wow…hebat…
    untuk jaman sekarang Anda termasuk wanita yg langka…heheh…bukan speciesnya…
    tapi….realisasi dan komitmen dari idealisme Anda.
    dan…sepertinya…
    lebih banyak wanita masa kini yg tidak sependapat dengan Anda…
    gmana…?
    boleh di pooling tuh…

Leave a Comment